Close

Alasan Warteg Tetap Jadi Andalan Pekerja Kota: Murah, Cepat, dan Mengenyangkan

2026-04-23 HaiPress

JAKARTA, iDoPress - Di tengah laju kota yang tak pernah benar-benar berhenti, warung tegal atau warteg tetap berdiri sebagai penopang kebutuhan paling dasar: makan.

Sejak pagi buta, denyut aktivitas sudah terasa. Pengemudi ojek online, pekerja proyek, hingga pegawai kantor datang silih berganti.

Mereka tidak datang untuk pengalaman kuliner mewah, melainkan efisiensi, makan cepat, harga terjangkau, dan cukup mengenyangkan untuk melanjutkan hari yang panjang.

Ifdal (32), pengemudi ojek online, melihat warteg sebagai pilihan paling rasional dalam kesehariannya di jalan.

Ia bekerja dari pagi hingga malam dengan penghasilan yang tidak menentu, sehingga membutuhkan tempat makan yang fleksibel secara harga.

“Kalau di gerai cepat saji bisa Rp 40.000 sampai Rp 60.000 sekali makan. Di warteg saya bisa makan nasi, sayur, tempe, sama ayam atau ikan, itu sudah kenyang,” ujar dia saat ditemui iDoPress di Juanda, Jakarta Pusat, Rabu (22/4/2026).

Menurut dia, keunggulan warteg bukan hanya murah, tetapi juga memberi kebebasan memilih sesuai kondisi keuangan.

Saat orderan sedang sepi, ia bisa mengambil lauk sederhana tanpa merasa terbebani.

Selain itu, ia menilai warteg memiliki fungsi sosial yang kuat. Ia sering duduk berdampingan dengan berbagai kalangan tanpa sekat.

“Kadang duduk sebelahan sama pegawai kantor, mahasiswa, atau tukang bangunan. Enggak ada yang mandang-mandang. Kita sama-sama makan,” ucap dia.

Pelanggan warteg lain Saras (21), mahasiswa yang sedang magang di wilayah Gambir, Jakarta Pusat, menjadikan warteg sebagai solusi untuk menekan pengeluaran harian.

Dengan statusnya sebagai mahasiswa, ia harus cermat mengatur uang makan.

“Kalau ke kafe atau tempat makan lain bisa habis Rp 50.000 lebih. Warteg itu paling aman, makan lengkap dan bisa pilih sesuai mood,” ujar Saras saat ditemui.

Ia juga melihat perubahan citra warteg yang kini lebih inklusif. Tidak lagi didominasi satu kelompok tertentu, warteg kini diisi berbagai kalangan, termasuk anak muda.

“Sekarang banyak juga anak muda yang makan di warteg. Bahkan pegawai kantoran juga banyak,” kata dia.

Menurut Saras, warteg juga menghadirkan pengalaman sosial yang berbeda. Meski tidak selalu saling mengenal, ada rasa kebersamaan yang muncul dari duduk berdampingan.

Sementara Chandra (46), pegawai swasta di kawasan Gondangdia, memilih warteg karena efisiensi waktu dan harga.

Ia hanya memiliki waktu makan siang yang terbatas, sehingga membutuhkan tempat makan yang cepat.

“Kalau ke restoran ngantri, belum lagi mahal. Di warteg itu cepat, tinggal tunjuk lauk,” kata Chandra.

Selain praktis, ia juga menyukai cita rasa rumahan yang ditawarkan warteg. Menu sederhana justru menjadi daya tarik utama.

Ia juga menilai warteg sebagai ruang sosial yang egaliter, di mana berbagai lapisan masyarakat bisa duduk bersama tanpa perbedaan.

“Di sini enggak ada sekat. Semua sama-sama makan,” ucap Chandra.

Tia (38), petugas kebersihan di gedung perkantoran, mengandalkan warteg sebagai solusi makan sehari-hari.

Dengan tanggung jawab ekonomi keluarga, ia harus memilih tempat makan yang terjangkau.

“Kalau makan di tempat lain mahal. Saya harus mikirin kebutuhan anak juga. Warteg itu yang paling cocok,” kata dia.

Ia biasanya memilih menu sederhana seperti sayur, tempe, atau telur, dan sesekali mengambil lauk tambahan jika memiliki uang lebih.

Meski merasakan kenaikan harga, ia tetap memahami kondisi pedagang.

Penafian: Artikel ini direproduksi dari media lain. Tujuan pencetakan ulang adalah untuk menyampaikan lebih banyak informasi. Ini tidak berarti bahwa situs web ini setuju dengan pandangannya dan bertanggung jawab atas keasliannya, dan tidak memikul tanggung jawab hukum apa pun. Semua sumber daya di situs ini dikumpulkan di Internet. Tujuan berbagi hanya untuk pembelajaran dan referensi semua orang. Jika ada pelanggaran hak cipta atau kekayaan intelektual, silakan tinggalkan pesan kepada kami.
©hak cipta2009-2020 Informasi Gaya Hidup Riau      Hubungi kami   SiteMap